Bekasi – Suasana malam Rabu (20/8/2025) di Jabodetabek mendadak berubah panik ketika gempa bumi dengan magnitudo 4,9 mengguncang wilayah Kabupaten Bekasi. Guncangan terasa cukup kuat di sejumlah daerah sekitar, mulai dari Kabupaten Bekasi, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, hingga Kota Depok. Getaran yang terjadi sekitar pukul 20.11 WIB itu membuat warga berhamburan keluar rumah, sebagian memilih berkumpul di halaman maupun jalanan untuk mencari tempat aman.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pusat gempa berada di darat, tepatnya 25 kilometer timur laut Kabupaten Bekasi, dengan kedalaman 10 kilometer. Karena tergolong gempa dangkal, dampaknya langsung terasa oleh masyarakat di sekitar episentrum, meski kekuatannya tidak besar.
Warga Panik, Lampu Goyang, dan Jendela Bergetar
Di Depok, Jawa Barat, kepanikan sempat melanda warga di sejumlah kecamatan seperti Pancoran Mas, Beji, dan Sawangan. Banyak warga mengaku merasakan guncangan cukup kuat selama 5–10 detik.
“Awalnya saya kira ada truk besar lewat di jalan depan rumah, tapi ternyata getarannya semakin kuat. Lampu gantung bergoyang, jendela kaca ikut bergetar. Kami langsung keluar rumah,” ujar Rahmat (35), warga Pancoran Mas, Depok.
Kepanikan juga dirasakan warga di Bekasi Timur. Seorang ibu rumah tangga mengaku sempat berlari ke luar rumah sambil membawa anak kecilnya. “Saya langsung bawa anak keluar karena takut bangunan runtuh. Semua tetangga juga keluar rumah,” katanya.
Di media sosial, sejumlah warganet ramai membagikan pengalaman saat merasakan gempa. Ada yang mengunggah video lampu gantung bergoyang, hingga lemari yang bergeser sedikit akibat guncangan. Meski demikian, situasi berangsur tenang setelah gempa reda dan tidak ada guncangan susulan yang signifikan.
Gempa Tidak Berpotensi Tsunami
BMKG memastikan gempa yang mengguncang Bekasi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami karena pusat gempa berada di daratan. Hingga pukul 22.00 WIB, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan meski magnitudonya relatif kecil, faktor kedangkalan gempa dan lokasi yang berdekatan dengan permukiman padat penduduk membuat getarannya terasa cukup kuat.
“Gempa darat dengan magnitudo 4,9 ini memang tidak besar, tetapi karena kedalamannya dangkal, dampak getarannya lebih dirasakan masyarakat. Kami imbau agar warga tetap tenang, tidak panik, dan selalu memperhatikan informasi resmi BMKG,” ujarnya.
Imbauan dan Kewaspadaan
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya dengan isu atau berita bohong terkait prediksi gempa susulan. Hingga saat ini, ilmu pengetahuan belum mampu memprediksi kapan gempa akan terjadi.
“Yang paling penting adalah kesadaran mitigasi. Pastikan rumah memiliki jalur evakuasi, jangan berada di dekat bangunan yang berpotensi roboh, dan segera keluar rumah ketika merasakan guncangan lagi,” jelas Dwikorita.
Pemerintah daerah di Bekasi dan Depok juga mengimbau warganya untuk tetap waspada, sembari menunggu evaluasi lebih lanjut dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Gempa di Bekasi, Fenomena yang Jarang
Gempa bumi di wilayah Bekasi dan sekitarnya terbilang jarang jika dibandingkan daerah lain di Indonesia yang masuk zona megathrust, seperti Sumatera Barat atau Selatan Jawa. Namun, para ahli menjelaskan bahwa gempa darat di sekitar Jabodetabek tetap mungkin terjadi karena adanya sesar aktif.
Menurut catatan BMKG, beberapa kali wilayah sekitar Jakarta dan Bekasi pernah diguncang gempa dengan magnitudo kecil hingga menengah. Misalnya pada tahun 2018, gempa berkekuatan 4,4 di Bogor sempat dirasakan warga Jakarta. Kemudian pada awal 2022, gempa M 6,6 di Banten juga sempat mengguncang gedung-gedung tinggi di ibu kota.
“Bekasi memang tidak masuk kawasan dengan aktivitas gempa tinggi, tetapi di sekitar Jabodetabek ada beberapa patahan aktif, seperti Sesar Baribis dan Sesar Cipamingkis. Patahan inilah yang sesekali bisa memicu gempa darat,” jelas seorang peneliti gempa dari ITB.
Pentingnya Mitigasi di Perkotaan
Peristiwa gempa Bekasi malam ini kembali menjadi pengingat bahwa wilayah perkotaan padat penduduk seperti Jabodetabek tetap rentan terdampak bencana. Meskipun gempa tidak menimbulkan kerusakan serius, getarannya mampu memicu kepanikan besar di tengah masyarakat.
Para pakar mengingatkan pentingnya mitigasi bencana di wilayah perkotaan. Bangunan bertingkat, apartemen, hingga rumah-rumah di kawasan padat harus memperhatikan standar konstruksi tahan gempa. Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang prosedur penyelamatan diri ketika gempa juga harus digencarkan.
“Jangan tunggu gempa besar baru sadar pentingnya mitigasi. Peristiwa kecil seperti ini harus jadi alarm agar pemerintah dan masyarakat lebih siap menghadapi risiko bencana,” ujar seorang pegiat kebencanaan dari Depok.
Gempa magnitudo 4,9 yang mengguncang Kabupaten Bekasi pada Rabu malam (20/8/2025) menimbulkan kepanikan warga hingga Jakarta dan Depok. Meski tidak menimbulkan kerusakan maupun korban, getarannya cukup kuat karena sifatnya gempa darat dangkal. BMKG memastikan tidak ada potensi tsunami, namun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak mudah percaya isu hoaks.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa wilayah perkotaan seperti Bekasi, Jakarta, dan Depok tetap memiliki potensi gempa. Mitigasi bencana, kesiapan jalur evakuasi, serta kesadaran masyarakat akan pentingnya langkah penyelamatan diri perlu terus ditingkatkan agar risiko bisa diminimalkan jika gempa lebih besar terjadi di masa depan.