Lampung tak hanya kaya akan keindahan alam dan kulinernya, tapi juga memiliki budaya yang begitu kental, termasuk dalam prosesi pernikahan. Adat pernikahan Lampung merupakan warisan leluhur yang penuh nilai, simbolisme, dan filosofi hidup.
Prosesi pernikahan adat ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan rangkaian upacara adat yang melibatkan keluarga, masyarakat, dan tokoh adat, dengan tahapan yang sudah berlangsung turun-temurun. Artikel ini akan mengulas lengkap urutan prosesi adat pernikahan Lampung, baik versi Pepadun maupun Saibatin, serta makna simboliknya.

Mengenal Dua Sistem Adat: Pepadun dan Saibatin
Sebelum masuk ke urutan prosesi, penting memahami bahwa masyarakat Lampung memiliki dua sistem adat utama:
- Pepadun: Cenderung demokratis, berkembang di wilayah Lampung Tengah, Lampung Utara (termasuk Kotabumi), dan sekitarnya.
- Saibatin: Bersifat aristokratik atau monarki adat, dominan di wilayah pesisir seperti Lampung Selatan dan Pesisir Barat.
Meskipun memiliki perbedaan struktur sosial, rangkaian pernikahan secara umum memiliki kesamaan nilai dan tahapan, dengan sedikit variasi pada istilah, pakaian, dan urutan acara.
Urutan Adat Pernikahan Lampung (Versi Umum)
Berikut adalah tahapan pernikahan adat Lampung secara umum, khususnya yang lazim di masyarakat adat Pepadun:
1. Betimbang Adat / Ngunduh Adok
Ini adalah pertemuan awal antar keluarga untuk membahas keseriusan hubungan dua pihak. Biasanya dilakukan secara informal, namun tetap dengan etika dan tata krama adat.
Makna: Simbol awal kesepakatan niat baik kedua keluarga.
2. Ngelamar / Nyejuk
Pihak laki-laki datang untuk secara resmi melamar wanita. Di sini mulai dibahas hal-hal seperti:
- Jumlah seserahan (jukok/junjung)
- Tanggal prosesi adat
- Tingkat adat yang akan digunakan
Makna: Komitmen dan kesungguhan dari pihak calon mempelai pria.
3. Penentuan Mahar dan Seserahan
Mahar dalam adat Lampung dikenal dengan sebutan “Junjungan”, dan seserahan disebut “Pelangkah”. Nilainya disesuaikan dengan status sosial, adat marga, dan kesepakatan keluarga.
Biasanya berisi:
- Emas atau perhiasan
- Uang tunai
- Pakaian
- Barang simbolik seperti kain tapis, alat rumah tangga
Makna: Bentuk tanggung jawab dan penghormatan dari pihak pria terhadap wanita dan keluarganya.
4. Akad Nikah
Proses akad nikah dilangsungkan secara agama Islam dan juga dilengkapi dengan protokol adat, seperti:
- Pembacaan ikrar adat
- Pengesahan oleh tokoh adat atau penyimbang
Makna: Kesucian ikatan perkawinan di hadapan Tuhan, keluarga, dan masyarakat.
5. Ngantat Jujur
Prosesi paling sakral, di mana pihak pengantin pria datang ke rumah mempelai wanita untuk menyerahkan jujur (mahar dan seserahan) secara simbolik.
Biasanya diiringi:
- Rombongan pengantin pria
- Tarian adat penyambutan
- Musik tradisional seperti gamolan pekhing
Makna: Puncak pengesahan hubungan adat antara dua keluarga.

6. Begawi / Resepsi Adat
Ini adalah acara besar yang biasa dilangsungkan di balai adat atau rumah. Termasuk:
- Pengantin mengenakan busana adat lengkap (kain tapis, siger, kalung, sesapur)
- Tarian dan hiburan adat
- Pembacaan silsilah atau gelar adat (jika ada)
Makna: Perayaan penyatuan dua keluarga besar, serta pengenalan pengantin ke masyarakat.
7. Ngumbay / Balik Tandang
Prosesi di mana pengantin wanita dan keluarganya berkunjung balik ke pihak pria. Ini bisa dilakukan beberapa hari setelah acara utama.
Makna: Simbol kesetaraan dan saling menghormati antar keluarga.
Busana Pernikahan Adat Lampung
Busana adat menjadi simbol status dan keanggunan. Elemen utamanya:
- Siger: Mahkota emas berlekuk tujuh atau sembilan (Saibatin) – melambangkan kedewasaan dan kemuliaan wanita.
- Kain Tapis: Dipakai sebagai bawahan, penuh simbol dan sulaman emas.
- Kalung buah jukum: Lambang kemakmuran dan keturunan.
- Sesapur: Selendang panjang sebagai simbol keberanian.
Untuk pengantin pria, dikenakan:
- Baju kurung adat
- Sarung tapis pria
- Kopiah emas atau tanjak
Musik dan Tarian Pengiring

Musik yang biasa digunakan:
- Gamelan Lampung (Gamolan Pekhing)
- Gong besar dan canang
Tarian pengiring:
- Tari Sigeh Penguten – menyambut tamu
- Tari Cangget – simbol suka cita keluarga
- Tari Melinting – biasanya di keluarga bangsawan
Simbolisme dan Filosofi
Adat pernikahan Lampung bukan hanya soal seremonial, tapi kaya filosofi:
- Kesetaraan antar marga dan keluarga
- Keikhlasan dalam memberi (jujur)
- Pentingnya restu keluarga dan penyimbang adat
- Perpaduan nilai Islam dan adat lokal
Perbedaan Saibatin dan Pepadun (Singkat)
| Elemen | Pepadun | Saibatin |
|---|---|---|
| Sistem Sosial | Demokratis | Aristokratis |
| Lokasi Umum | Lampung Tengah, Kotabumi | Pesisir Barat, Lampung Selatan |
| Busana Pengantin | Siger 9 lekuk, tapis beragam | Siger 7 lekuk, tapis khas bangsawan |
| Tarian Pernikahan | Cangget | Melinting |
| Gelar Pengantin | Bisa diturunkan | Biasanya tetap dari keturunan |
Tips Melaksanakan Pernikahan Adat Lampung di Era Modern
- Kombinasikan resepsi adat dengan elemen modern (dekorasi, MC, catering)
- Sewa pengrajin dan busana adat lokal agar otentik
- Dokumentasikan prosesi adat dengan video berkualitas
- Konsultasi dengan tokoh adat atau penyimbang agar prosesi sesuai tradisi
Pernikahan adat Lampung adalah rangkaian budaya yang kaya simbol, penuh makna, dan sarat nilai leluhur. Dari prosesi awal hingga begawi, setiap tahapan mengajarkan kita pentingnya komitmen, tanggung jawab, dan penghormatan antar keluarga.
Menjaga dan melaksanakan adat ini bukan sekadar menjaga tradisi, tapi juga memperkuat identitas budaya Lampung di tengah arus modernisasi.