Kotabumi.id – Memutuskan untuk berlibur, merantau untuk kuliah, atau pindah tugas kerja ke Provinsi Lampung? Selamat datang di Bumi Ruwa Jurai! Selain menyiapkan fisik untuk menjelajahi keindahan alamnya dan perut untuk mencicipi kulinernya, ada satu hal lagi yang sebaiknya Anda persiapkan: beradaptasi dengan gaya bahasanya.
Masyarakat Lampung, baik di pesisir maupun di daerah pedalaman seperti Kotabumi, memiliki gaya bahasa pergaulan yang cukup unik. Percakapan sehari-hari di sini sering kali merupakan percampuran antara bahasa Indonesia yang baku dengan serapan dialek lokal. Memahami istilah-istilah gaul ini tidak hanya akan menghindarkan Anda dari kebingungan, tetapi juga membuat Anda lebih cepat akrab dan membaur dengan warga setempat.
Bicara soal berbaur, penting juga bagi Anda untuk tahu cara menyapa orang yang lebih tua agar tidak salah ucap. Anda bisa mempelajari tata kramanya di artikel [Kata Panggilan Kakak dalam Bahasa Lampung: Ragam, Makna, dan Persebarannya].

Nah, agar Anda tidak ‘roaming‘ saat diajak mengobrol santai di warung kopi atau saat bertanya jalan, berikut adalah 6 istilah bahasa sehari-hari di Lampung yang wajib Anda ketahui:
1. Penambahan Partikel “Geh”
Jika di Jakarta Anda akrab dengan akhiran “dong”, atau di Jawa Timur dengan kata “rek”, maka di Lampung Anda akan sangat sering mendengar partikel “geh”.
Kata ini biasanya disematkan di akhir kalimat dan berfungsi sebagai penekanan, ajakan, atau kadang untuk sedikit memaksa secara halus.
- Contoh: “Ayo makan geh!” (Ayo makan dong!), atau “Cepetan geh jalannya!” (Buruan dong jalannya!).
2. Penggunaan Partikel “Tah”
Selain “geh”, partikel lain yang mendominasi percakapan lokal adalah “tah”. Istilah ini berfungsi sebagai kata tanya penegas, mirip dengan penggunaan kata “sih” atau “kah” dalam bahasa Indonesia standar.
- Contoh: “Masa tah dia nggak datang?” (Masa sih dia nggak datang?), atau “Beneran tah ini jalannya?” (Beneran kah ini jalannya?).
3. “Kamu Orang” dan “Kita Orang”
Ini mungkin terdengar agak aneh bagi pendatang baru. Alih-alih menggunakan kata “kalian” atau “kami”, masyarakat di Lampung lebih sering menggunakan frasa “kamu orang” dan “kita orang”.
Sebenarnya, ini adalah terjemahan harfiah dari bahasa daerah setempat. Dalam bahasa Lampung (tergantung dialek), kata “kalian” bisa disebut kuti gham, sementara “kami” disebut gham gham. Ketika diindonesiakan dalam percakapan sehari-hari, jadilah istilah yang khas ini.
- Contoh: “Kamu orang mau pada ke mana sore-sore begini?” (Kalian mau pada ke mana?).
4. “Mengkol” (Bukan Membelok)
Istilah ini sangat krusial jika Anda sedang tersesat dan bertanya arah jalan kepada warga lokal. Di Lampung, kata “belok” sangat jarang digunakan dalam percakapan lisan. Masyarakat lebih lazim menggunakan kata “mengkol” untuk menunjukkan arah tikungan.
- Contoh: “Nanti di perempatan depan, kamu mengkol ke kanan ya.” (Nanti di perempatan depan, kamu belok ke kanan ya).
5. “Susuk” (Bukan Jampi-jampi)
Jangan salah paham dulu! Jika Anda sedang berbelanja di warung kelontong atau jajan di pasar Kotabumi lalu penjualnya bilang, “Ini susuknya, Mas”, mereka tidak sedang membicarakan hal klenik atau mistis.
Dalam bahasa keseharian di Lampung, “susuk” berarti uang kembalian.
- Contoh: “Bang, beli rokok satu, ini uangnya pas ya nggak pakai susuk.”
Bahasa adalah kunci utama untuk membuka keakraban di tempat baru. Dengan memahami enam istilah dasar di atas, interaksi Anda dengan warga lokal dijamin akan terasa lebih luwes dan bersahabat.
Selamat mempraktikkan istilah-istilah ini di tongkrongan! Jangan lupa untuk terus membaca SeKotabumi.id untuk mendapatkan panduan lokal dan update berita terbaru dari Lampung Utara.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ):
Apa arti kata ‘geh’ di Lampung? “Geh” adalah partikel penegas kalimat yang sering diletakkan di akhir percakapan. Fungsinya sangat mirip dengan kata “dong” dalam bahasa pergaulan di Jakarta.
Apa itu ‘susuk’ dalam bahasa sehari-hari di Lampung? Dalam transaksi sehari-hari di warung atau pasar tradisional Lampung, “susuk” berarti uang kembalian belanja.