Legenda Sumur Putri: Kisah Cinta, Kesedihan, dan Jejak Sejarah di Bandar Lampung

Photo of author

By Redaksi

Sumur Putri, sebuah tempat bernuansa mistis dan historis di Telukbetung, Bandar Lampung, bukan hanya sekadar sumber mata air. Ia menyimpan kisah cinta, kehilangan, dan pengorbanan yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Lampung. Legenda ini berasal dari masa kejayaan Kerajaan Nayan Sakti, kerajaan makmur yang dahulu berdiri di pesisir Pulau Sumatra.

Awal Mula: Kerajaan Nayan Sakti dan Dua Putri

Kerajaan Nayan Sakti dipimpin oleh Raja Umpu Kuning dan permaisurinya, Puti Balam Emas, yang memiliki dua putri cantik: Puti Mayang Belu dan Puti Rindang Perak. Kedua putri tumbuh dengan keanggunan, kecintaan pada kerajinan tapis, dan dedikasi dalam merawat taman istana mereka: Taman Swarnadwipa.

Namun, kebahagiaan itu hancur seketika ketika gelombang besar melanda kerajaan. Istana rata dengan tanah. Raja sedang berlayar dan tak kunjung kembali. Permaisuri dan para pangeran hilang. Hanya kedua putri yang selamat karena berhasil mengungsi ke perbukitan.

Harapan Baru dan Kedatangan Pangeran

Setelah bencana, kedua putri membangun kembali negeri itu dengan nama Kerajaan Nayan Sakti Baru. Dalam masa pemulihan itulah hadir Pangeran Niro Pamuncak, putra dari Raja Kalung Mago (saudara angkat Raja Umpu Kuning). Ia datang membawa bantuan dan harapan. Pangeran Niro disambut dengan suka cita, dan membangun kembali taman kerajaan yang kini dinamai Taman Enggal.

Tanpa disadari, kehadiran sang pangeran menumbuhkan benih cinta di hati kedua putri. Namun takdir berkata lain.

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Pangeran Niro memilih Puti Mayang Belu sebagai pasangan hidup. Lamaran diterima, dan mereka menikah serta berangkat ke Negeri Seberang. Puti Rindang Perak, yang juga memendam cinta kepada sang pangeran, memilih menyembunyikan lukanya demi kebahagiaan kakaknya.

Baca Juga  Tradisi Cakak Pepadun: Adat Sakral Kenaikan Status di Lampung Utara

Kesedihannya makin dalam setelah ditinggal satu-satunya keluarga yang tersisa. Ia meninggalkan istana, memilih bertapa di tepi sungai yang kelak disebut Kali Akar, tepat di bawah pohon besar yang rindang. Di sanalah ia menghabiskan hari-hari terakhirnya dengan doa dan renungan.

Kelahiran Sumur Putri

Setelah kepergiannya, dari tempat pertapaan Puti Rindang Perak muncul mata air panas. Air itu dipercaya masyarakat sebagai simbol dari air mata dan kesucian hatinya. Mata air tersebut kemudian dikenal sebagai Sumur Puti Rindang Perak, yang belakangan lebih populer disebut Sumur Putri.

Sumur ini tidak pernah kering, bahkan dipercaya memiliki khasiat menyembuhkan penyakit. Di sekitarnya juga tumbuh tradisi Belangiran – ritual mandi bersama menyambut bulan Ramadan, yang sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan pencarian jodoh.

Pelestarian Warisan Budaya

Sumur Putri kini menjadi nama kelurahan di Telukbetung, Bandar Lampung. Meski pembangunan dan industrialisasi mengubah kawasan sekitar, nilai budaya dan spiritual dari Sumur Putri tetap hidup dalam ingatan kolektif warga.

Kisah ini mengajarkan:

  • Ketegaran menghadapi bencana
  • Pengorbanan demi cinta
  • Makna spiritual dari kesedihan
  • Kearifan lokal dalam menjaga lingkungan dan sejarah

Legenda Sumur Putri bukan hanya dongeng turun-temurun, tetapi juga refleksi sejarah, budaya, dan nilai luhur masyarakat Lampung. Ia mengingatkan kita bahwa di balik sebuah tempat, bisa tersembunyi kisah yang menyentuh jiwa dan membentuk identitas suatu daerah.